Mari Mengalahkan Ragu!

Hai kamu,

Selamat hari selasa yang luar biasa, buat kamu yang terbiasa berada dalam keseharian yang menyiksa, semoga kemudahan hidup bersama anda, dan bukannya datang derita yang melanda :v JANGAN LUPA BAHAGIA!

 

 

Kali ini saya akan mengajak kalian yang membaca ini untuk ber-refleksi sejenak  soal keyakinan dan kepercayaan, terutama terhadap Tuhan Sang Pencipta. Disini saya akan memberikan sebuah cerita singkat sebagai bahan refleksi. Cekidot!

       Suatu malam ada seorang pendaki yang mendaki gunung sendirian, dan saat itu cuacanya sangat dingin.

Saat sedang mendaki tiba-tiba kakinya terpleset, ia kehilangan pijakan dan badannya bergelantungan di udara. Saat itu ia tidak lagi bisa melihat dengan jelas karena gelapnya malam, dan ketika tidak bisa mencari pijakan lagi, akhirnya ia memilih pasrah berpegangan dengan tali.

Didalam hati ia berdoa kepada Tuhan “Tuhan, tolonglah aku”

Tiba-tiba terdengar suara yang entah berasal darimana “Apakah kau percaya denganku?”

“Tentu saja aku percaya kepadamu Tuhan”

“Kalau begitu lepaskan saja peganganmu dari tali tersebut”

Pendaki tersebut ragu karena ia takut  terjatuh, akhirnya ia memilh untuk tetap berpegangan dengan tali tersebut, sambil berharap pagi segera tiba.

Pagi harinya warga sekitar menemukan mayat seorang pendaki yang diduga mati karena kedinginan. Mirisnya, tangan mayat tersebut memegang sebuah tali yang bergantung hanya 1,5  meter di atas permukaan tanah.

 

Terkadang kita berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan,namun kita meragukan jalannya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan pepatah kuno “Lain di Bibir, Lain di Hati”. Ini sering terjadi dalam kehidupan kita, terutama dalam keseharian kita. Kita selalu berkata bahwa kita percaya terhadap sesuatu, namun jauh didalam hati kita masih terdapat keraguan terhadap hal tersebut. Entah karena itu kurang sesuai pemikiran kita, karena tidak terbukti kebenarannya, atau bahkan karena tidak masuk akal. Memang itu sifat alamiah manusia, yang pada dasarnya baru mau mempercayai sesuatu apabila dia melihat atau mengalaminya SENDIRI. Tetapi jika kita sudah meminta petunjuk dan mendapatkannya, apa salahnya untuk mengikuti dan melaksanakan petunjuk itu.

 

Cerita diatas mengajarkan kita untuk mengandalkan Tuhan dalam setiap kehidupan kita, bahkan ketika kita putus asa sekalipun. Kita sudah memilih keyakinan atau agama tertentu sebagai pedoman hidup kita. Berarti kita mempercayakan jalan hidup kita kepada Tuhan. Lalu apa lagi yang harus diragukan? Apakah menunggu penyesalan yang datang?  Mari tanyakan pada diri kita sendiri. Mari mengalahkan ragumu! -Anonymous

 

The post Mari Mengalahkan Ragu! appeared first on Rinaldy Lowens Hutabarat.

0 Shares:

Leave a Reply

You May Also Like

My Journal

Assalammualaikum, my name is Dwi Septiandi, I am a recipient of a HEA scholarship at the BINTAN CAKRAWALA POLYTECHNIC, I am from D3 study tour program where I study about tourist destinations, learn about marine tourism and guide. In BINTAN CAKRAWALA POLITECHNIC, I also participated in an organization created by the campus, and got a […]

Introduction

Hi viders (vidya readers). Welcome to my blog. How are you ? I hope you all always healthy. Well, I want to tell you about my first blog. So here I want to introduce myself first to the viders wherever you are. Okay, my name is Vidya Rafa Yuriska, you can call me Vidya, Vid […]